NIM : 223414051
JURUSAN : D3 MLM 2014
Analisis ABC
adalah metode dalam manajemen persediaan (inventory management) untuk mengendalikan sejumlah kecil barang, tetapi mempunyai nilai investasi yang
tinggi.
Analisis ABC
didasarkan pada sebuah konsep yang dikenal dengan nama Hukum Pareto (Ley de
Pareto), dari nama ekonom dan sosiolog Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923).
Hukum Pareto menyatakan bahwa sebuah grup selalu memiliki persentase terkecil
(20%) yang bernilai atau memiliki dampak terbesar (80%). Pada tahun 1940-an,
Ford Dickie dari General Electric mengembangkan konsep Pareto ini untuk menciptakan
konsep ABC dalam klasifikasi barang persediaan.
Hukum Pareto ini juga menjadi dasar bagi
pengembangan Bagan
Pareto (Pareto
Chart). Bagan Pareto adalah salah satu dari 7 alat peningkatan kualitas (7 tools of quality) yang
dikembangkan oleh J.M.
Juran pada
tahun 1950. Dengan Bagan Pareto, penyebab atau segala hal yg mengurangi
kualitas produk diurutkan dari yg paling penting ke yang paling kurang penting.
Berdasarkan
hukum Pareto, analisis ABC dapat menggolongkan barang berdasarkan peringkat
nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan kemudian dibagi menjadi
kelas-kelas besar terprioritas; biasanya kelas dinamai A, B, C, dan seterusnya
secara berurutan dari peringkat nilai tertinggi hingga terendah, oleh karena
itu analisis ini dinamakan “Analisis ABC”. Umumnya kelas A memiliki jumlah
jenis barang yang sedikit, namun memiliki nilai yang sangat tinggi.
Dalam hal
ini, saya akan menggunakan tiga kelas, yaitu: A, B, dan C, di mana besaran
masing-masing kelas ditentukan sebagai berikut (Sutarman, 2003, pp. 144–145):
11. Kelas A,
merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 15-20% dari total
seluruh barang, tetapi merepresentasikan 75-80% dari total nilai uang.
2.2. Kelas B,
merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 20-25% dari total seluruh
barang, tetapi merepresentasikan 10-15% dari total nilai uang.
33. Kelas C,
merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 60-65% dari total seluruh
barang, tetapi merepresentasikan 5-10% dari total nilai uang.
Adapun langkah-langkah atau
prosedur klasikasi barang dalam analisis ABC adalah sebagai berikut:kasi
barang dalam analisis ABC adalah sebagai berikut:
1. Menentukan jumlah unit untuk setiap
tipe barang.
2. Menentukan harga per unit untuk setiap
tipe barang.
3. Mengalikan harga per unit dengan jumlah
unit untuk menentukan total nilai uang dari masing-masing tipe barang.
4. Menyusun urutan tipe barang menurut
besarnya total nilai uang, dengan urutan pertama tipe barang dengan total nilai
uang paling besar.
5. Menghitung persentase kumulatif barang
dari banyaknya tipe barang.
6. Menghitung persentase kumulatif nilai
uang barang dari total nilai uang.
7. Membentuk kelas-kelas berdasarkan
persentase barang dan persentase nilai uang barang.
8. Menggambarkan kurva analisis ABC (bagan
Pareto) atau menunjuk tingkat kepentingan masalah.
Dengan analisis ABC, kita dapat melihat
tingkat kepentingan masalah dari suatu barang. Dengan begitu, kita dapat
melihat barang mana saja yang perlu diberikan perhatian terlebih dahulu
Analisis ABC dalam
Pengendalian Persediaan
Dalam sebagian besar situasi nyata, manajemen persediaan biasanya
melibatkan sejumlah besar barang dengan harga yang bervariasi dari yang relatif
tidak mahal sampai barang-barang yang sangat mahal. Karena persediaan pada kenyataannya mewakili modal yang
menganggur, maka adalah logis jika pengendaliaannya harus dilakukan utamanya
terhadap persediaan barang-barang yang secara berarti bertanggung jawab atas
kenaikan biaya modal. Jadi barang-barang rutin seperti baut dan sekrup,
memiliki arti yang lebih kecil dalam hal biaya modal ketika dibandingkan dengan
barang-barang yang melibatkan suku cadang yang mahal. Karena itu, menurut Moore
dan Hendrick (1989:230), menyediakan secukupnya barang-barang yang murah
seperti itu dan memperkenankan karyawan yang memerlukannya untuk mengambil
sendiri dipandang lebih baik.
Dalam sistem ini perusahaan menganalisis setiap barang
persediaan berdasarkan biayanya, frekuensi penggunaan, parahnya masalah yang
diakibatkan oleh habisnya persediaan, waktu tunggu pesanan, dan kriteria
lainnya. Barang-barang mahal, yang seringkali digunakan, dan mempunyai waktu
tunggu pesanan yang panjang dimasukkan dalam kategori A; barang-barang yang
kurang penting dimasukkan dalam kategori B dan barang-barang yang paling kurang
penting dimasukkan dalam kategori C. Peninjauan atas persediaan kategori A
cukup sering harus dilakukan, misalnya sekali sebulan. Hal-hal yang ditinjau
bisa berupa tingkat penggunaan terakhir, posisi persediaan, dan situasi pada
waktu pengiriman, dan selanjutnya EOQ akan disesuaikan kalau diperlukan.
Persediaan kategori B ditinjau dan disesuaikan dalam tempo yang relatif lebih
lama (misal setiap 3 bulan), dan kategori C diperiksa mungkin secara tahunan.
Metode analisis atau klasifikasi ABC adalah umum digunakan dalam
pengendalian persedian (inventory control) bagi perusahaan-perusahaan yang
mempunyai berbagai jenis/macam bahan dalam persediaan yang mempunyai nilai
penggunaan yang berbeda-beda. (Gaspersz, 2001:273 ; Assauri, 1999:204).
Analisis ABC mengikuti prinsip 80-20, atau hukum pareto dimana
sekitar 80% dari nilai total persediaan material diwakili oleh 20% material
persediaan.
Penggunaan analisis ABC adalah untuk menetapkan (Gaspersz,
Ibid.) :
- Frekensi
perhitungan inventory (cycle counting), di mana material-material kelas A
harus ditinjau lebih sering dalam hal akurasi catatan inventory
dibandingkan dengan material-material kelas B dan C.
- Perioritas
rekayasa (engineering), di mana material-material kelas A dan B memberikan
petunjuk pada bagian rekayasa dalam meningkatkan program reduksi biaya
ketika mencari
material-material tertentu yang perlu difokuskan.
Perioritas pembelian (perolehan), di mana
aktivitas pembelian seharusnya difokuskan pada bahan-bahan bernilai tinggi
(high cost) dan penggunaan dalam jumlah tinggi (high usage). Fokus pada
material-material kelas A untuk pemasokan (sourcing) dan negosiasi.
Keamanan; meskipun nilai biaya per unit
merupakan indikator yang lebih baik dibandingkan nilai penggunaan (usage
value), namun analisis ABC boleh digunakan sebagai indikator dari
material-material mana (Kelas A dan B) yang seharusnya lebih aman disimpan
dalam ruangan terkunci untuk mencegah kehilangan, kerusakan atau pencurian.
Sistem pengisian kembali (replenishment
systems), dimana klasifikasi ABC akan membantu mengidentifikasi metode
pengendalian yang digunakan. Akan lebih ekonomis apabila pengendalian
material-material kelas C dengan simple two-bin system of
replenishment, dan metode-metode yang lebih canggih untuk
material-material kelas A dan B.
Keputusan investasi; karena material-material
kelas A menggambarkan investasi yang lebih besar dalam inventori, maka perlu
lebih berhati-hati dalam membuat keputusan tentang kuantitas pesanan dan stok
pengaman terhadap material-material kelas A, dibandingkan dengan
material-material kelas B dan C.
Adapun teknik prosedur untuk mengelompokkan material-material
persediaan ke dalam kelas A, B, dan C, yaitu antara lain (Gaspersz, Ibid.:274)
:
- Tentukan
volume penggunaan per periode waktu (biasanya per tahun) dari
material-material persediaan yang ingin diklasifikasikan.
- Perkalian
volume penggunaan per periode waktu (per tahun) dari setiap material
persediaan dengan biaya per unitnya untuk memperoleh nilai total
penggunaan biaya per periode waktu (per tahun) untuk setiap material
persediaan itu.
- Jumlahkan
nilai total penggunaan biaya dari semua material persediaan itu untuk
memperoleh nilai total penggunaan biaya agregat (keseluruhan).
- Bagi nilai
total penggunaan biaya dari semua material itu dengan nilai total
penggunaan biaya agregat, untuk menentukan persentase nilai total
penggunaan biaya dari setiap material inventori itu.
- Daftarkan
material-material itu dalam bentuk ranking persentase nilai total
penggunaan biaya dengan urutan menurun dari terbesar sampai terkecil.
- Klasifikasikan
material-material persediaan itu ke dalam kelas A, B, dan C dengan
kriteria: 20% dari jenis material diklasifikasikan ke dalam kelas A, 30%
dari jenis material diklasifikasikan ke dalam kelas B, dan 50% dari jenis
material diklasifikasikan ke dalam kelas C.

